Upaya Menghidupkan Qolbu
(Buletin Jum'at Edisi 97)
Kalau ada satu
keberuntungan bagi manusia dibanding dengan hewan, maka itu adalah bahwa
manusia memiliki kesempatan untuk ma’rifat (kesanggupan mengenal Allah).
Kesanggupan ini dikaruniakan Allah karena manusia memiliki akal dan yang
terutama sekali hati nurani. Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi
manusia.
Orang-orang yang hatinya
benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya akan
berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini,
kecuali keberhasilan mengenali diri dan Tuhannya.
Karenanya, siapapun yang
tidak bersungguh-sungguh menghidupkan hati nuraninya, dia akan jahil, akan
bodoh, baik dalam mengenal dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dalam mengenal
Allah Azza wa Jalla, Zat yang telah menyempurnakan kejadiannya dan pula
mengurus tubuhnya lebih daripada apa yang bisa ia lakukan terhadap dirinya
sendiri.
Orang-orang yang sepanjang
hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus
bagaimana menyikapi hidup ini, tidak akan tahu indahnya hidup. Demikian pun,
karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastikan kalau yang
dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil belaka.
Akibatnya, semua kalkulasi
perbuatannya, tidak bisa tidak, hanya diukur oleh aksesoris keduniaan belaka.
Dia menghargai orang semata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat, jabatan,
dan kedudukannya, ataupun banyak hartanya. Demikian pula dirinya sendiri merasa
berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi
dibandingkan dengan orang lain. Adapun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan
kedudukan itu sendiri, ia tidak akan mempedulikan dari mana datangnya dan
kemana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiadanya.
Sebagian besar orang
ternyata tidak mempunyai cukup waktu dan kesungguhan untuk bisa mengenali hati
nuraninya sendiri. Akibatnya, menjadi tidak sadar, apa yang harus dilakukan di
dalam kehidupan dunia yang serba singkat ini. Sayang sekali, hati nurani itu –
berbeda dengan dunia – tidak bisa dilihat dan diraba. Kendatipun demikian, kita
hendaknya sadar bahwa hatilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup
ini.
Seorang ibu yang tengah
mengandung ternyata mampu menjalani hari-harinya dengan sabar, padahal jelas
secara duniawi tidak menguntungkan apapun. Yang ada malah berat melangkah,
sakit, lelah, mual. Walaupun demikian, semua itu toh tidak membuat sang ibu
berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.
Datang saatnya melahirkan,
apa yang bisa dirasakan seorang ibu, selain rasa sakit yang tak terperikan.
Tubuh terluka, darah bersimbah, bahkan tak jarang berjuang diujung maut. Ketika
jabang bayi berhasil terlahir ke dunia, subhanallaah, sang ibu malah tersenyum
bahagia.
Sang bayi yang masih merah
itu pun dimomong siang malam dengan sepenuh kasih sayang. Padahal tangisnya di
tengah malam buta membuat sang ibu terkurangkan jatah istirahatnya. Siang malam
dengan sabar ia mengganti popok yang sebentar-sebentar basah dan
sebentar-sebentar belepotan kotoran bayi. Cucian pun tambah menggunung karena
tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti karena terkena pipis si
jantung hati. Akan tetapi, Masya Allah, semua beban derita itu toh tidak
membuat ia berlaku kasar atau mencampakkan sang bayi.
Ketika tiba saatnya si
buah hati belajar berjalan, ibu pun dengan seksama membimbing dan menjaganya.
Hatinya selalu cemas jangan-jangan si mungil yang tampak kian hari semakin lucu
itu terjatuh atau menginjak duri. Saatnya si anak harus masuk sekolah, tak
kurang-kurangnya menjadi beban orang tua. Demikian pula ketika memasuki dunia
remaja, mulai tampak kenakalannya, mulai sering membuat kesal orang tua.
Sungguh menjadi beban batin yang tidak ringan.
Pendek kata, sewaktu kecil
menjadi beban, sudah besar pun tak kurang menyusahkan. Begitu panjang rentang
waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban, namun begitu
sedikit balas jasa anak. Bahkan tak jarang sang anak malah membuat durhaka,
menelantarkan, dan mencampakkan kedua orang tuanya begitu saja manakala tiba
saatnya mereka tua renta.
Mengapa orang tua bisa
sedemikian tahan untuk terus menerus berkorban bagi anak-anaknya? Karena,
keduanya mempunyai hati nurani, yang dari dalamnya terpancar kasih sayang yang
tulus suci. Walaupun tidak ada imbalan langsung dari anak-anaknya, namun nurani
yang memiliki kasih sayang inilah yang memuatnya tahan terhadap segala
kesulitan dan penderitaan. Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak
menjadi beban.
Oleh karena itu,
beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak,
akan tetapi yang harus selalu kita jaga dan rawat sesungguhnya adalah kekayaan
batin kita berupa hati nurani ini. Hati nurani yang penuh cahaya kebenaran akan
membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan
merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, waspadalah bila
cahaya hati nurani menjadi redup. Karena, tidak bisa tidak, akan membuat pemiliknya
selalu merasakan kesengsaraan lahir batin lantaran senantiasa merasa terjauhkan
dari rahmat dan pertolongan-Nya.
Allah Mahatahu akan segala
lintasan hati. Dia menciptakan manusia beserta segala isinya ini dari unsur
tanah; dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari
tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan kita tidaklah cukup dengan
berdzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan, yang
ternyata sumbernya dari tanah pula.
Bila perut terasa lapar,
maka kita santap aneka makanan, yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh
kedinginan, kita pun mengenakan pakaian, yang bila ditelusuri, ternyata
unsur-unsurnya terbuat dari tanah. Demikian pun bila suatu ketika tubuh kita
menderita sakit, maka dicarilah obat-obatan, yang juga diolah dari
komponen-komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala
keperluan tubuh, kita mencarikan jawabannya dari tanah.
Akan tetapi, qolbu ini
ternyata tidak senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga hanya akan terpuaskan
laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat
Allah. “Alaa bizikrillaahi tathmainul quluub.” (QS. Ar Rad [13] : 28). Camkan,
hatimu hanya akan menjadi tentram jikalau engkau selalu ingat kepada Allah!
Kita akan banyak mempunyai
banyak kebutuhan untuk fisik ita, tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk
qolbu kita. Karenanya, marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi
kebutuhan fisik dengan unsur duniawi, tetapi qolbu atau hati nurani kita tetap
tertambat kepada Zat Pemilik dunia. Dengan kata lain, tubuh sibuk dengan urusan
dunia, tetapi hati harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia. Inilah
sebenarnya yang paling harus kita lakukan.
Sekali kta salah dalam
mengelola hati – tubuh dan hati sama-sama sibuk dengan urusan dunia – kita pun
akan stress jadinya. Hari-hari pun akan senantiasa diliputi kecemasan. Kita
akan takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut terjegal, dan
seterusnya. Ini semua diakibatkan oleh sibuknya seluruh jasmani dan rohani kita
dngan urusan dunia semata.
Inilah sebenarnya yang
sangat potensial membuat redupnya hati nurani. Kita sangat perlu meningkatkan
kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini.
Bagaimana caranya agar
kita mampu senantiasa membuat hati nurani ini tetap bercahaya? Secara umum
solusinya adalah sebagaimana yang diungkapkan di atas : kita harus senantiasa
berjuang sekuat-kuatnya agar hati ini jangan sampai terlalaikan dari mengingat
Allah. Mulailah dengan mengenali apa yang ada pada diri kita, lalu kenali apa
arti hidup ini. Dan semua ini bergantung kecermatan kepada ilmu. Kemudian
gigihlah untuk melatih diri mengamalkan sekecil apapun ilmu yang dimiliki
dengan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu memilih lingkungan orang yang baik,
orang-orang yang shalih. Mudah-mudahan ikhtiar ini menjadi jalan bagi kita
untuk dapat lebih mengenal Allah, Zat yang telah menciptakan dan mengurus kita.
Dialah satu-satunya Zat Maha Pembolak-balik hati, yang sama sekali tidak
sesulit bagi-Nya untuk membalikan hati yang redup dan kusam menjadi terang
benderang dengan cahaya-Nya. Wallahu’alam. (Manajemen Qolbu Aa Gym)